Pagi itu, 13 Mei 2018, tiga ledakan terjadi berurutan: pertama di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela (Jl. Ngagel Madya) pukul 06.30 WIB, disusul di Gereja Kristen Indonesia (GKI) Diponegoro pukul 07.00 WIB, dan terakhir di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jemaat Sawahan di Jl. Arjuno sekitar pukul 07.53 WIB. Aksi tersebut dilakukan oleh satu keluarga, yang kemudian diketahui terafiliasi dengan jaringan teroris, dan menewaskan 12 orang warga sipil serta 6 pelaku, serta melukai lebih dari 40 orang lainnya.
Menjelang peringatan tahunan ini, berbagai elemen masyarakat, tokoh agama, pemuda, dan warga Surabaya menggelar serangkaian kegiatan refleksi, doa bersama, dan aksi solidaritas lintas iman. Pagi tadi, Uskup Surabaya Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo memimpin Misa Kudus peringatan di Gereja Santa Maria Tak Bercela, dihadiri ratusan umat serta perwakilan umat Islam, Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan Khonghucu.
“Kami mengenang setiap korban, mendoakan kedamaian jiwa mereka, dan berjanji tidak akan membiarkan perpecahan merobek persaudaraan kita. Surabaya adalah kota yang dibangun di atas semangat keberagaman, dan tragedi ini justru menguatkan tekad kita menjaga kerukunan,” ujar Uskup Agustinus dalam khotbahnya.
Siang hingga sore ini, kegiatan bertajuk “Surabaya Bersatu: Ingat, Doakan, Kuatkan” digelar di GKI Diponegoro dan GPPS Sawahan. Ada doa lintas agama, pembacaan nama-nama korban, penanaman pohon perdamaian, serta diskusi pemuda bertema menjaga keamanan dan persatuan bangsa. Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi yang hadir menyebutkan, pemerintah kota terus menjadikan momen ini sebagai pengingat agar keberagaman tetap menjadi kekuatan, bukan celah perpecahan.
“Delapan tahun berlalu, luka mungkin masih ada, tapi semangat persaudaraan justru makin kuat. Kami pastikan keamanan dijaga ketat, dan ruang-ruang dialog antaragama terus diperluas agar tidak ada lagi kejahatan yang mengatasnamakan agama,” kata Eri.
Berbagai organisasi seperti GP Ansor, Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), dan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) juga turut ambil bagian. Ketua FKUB Surabaya menyatakan, kegiatan ini bukan sekadar mengenang masa lalu, tapi komitmen nyata menolak segala bentuk kekerasan dan terorisme.
Banyak warga yang datang membawa bunga atau berdoa secara pribadi di lokasi bekas kejadian. Salah satu warga, Siti Aminah (42), warga sekitar Ngagel, mengaku selalu hadir setiap tahun. “Saya ingat jelas suasana panik waktu itu. Hari ini saya datang mendoakan dan berharap Surabaya selalu damai, anak-anak kami tumbuh di lingkungan yang aman dan rukun,” ujarnya.
Peringatan tahunan ini menjadi bukti bahwa meski peristiwa itu meninggalkan duka mendalam, masyarakat Surabaya dan Indonesia secara keseluruhan menjawabnya dengan persatuan, kedamaian, dan komitmen teguh menjaga keberagaman sebagai identitas bangsa yang tak tergantikan.
Red. INDONESIA NEWS
.png)
.png)